Kita Bersyukur, Karena Para Pendahulu Kita Menolak Diajajah

Terlalu banyak alasan kenapa kita mensyukuri kemerdekaan ini. Salah satunya karena kita memiliki leluhur yang pantang dijajah.
teks proklamasi

Hari ini kita mengenang dan mensyukuri kemerdekaan Republik Indonesia. 74 tahun yang lalu, di rumah seorang saudagar bernama Faradj bin Said bin Awadh Martak di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta proklamasi dikumandangkan pada hari Jum’at-Legi, 17 Agustus 1945 yang bertepatan dengan 9 Ramadhan 1364 hijriah.

Banyak alasan mengapa kita patut mensyukuri kemerdekaan ini. Bila kita bandingkan dengan berbagai wilayah di muka bumi yang mengalami penjajahan Eropa, sungguh kita patut berbangga sekaligus bersyukur.

...

Betapa tidak ? Lihat saja nasib sebuah benua di barat Eropa yang kemudian dinamakan Amerika. Berapa jumlah native Amerika sebelum Colombus dan orang-orang Eropa datang menjajah? Sejarawan menyebutkan jumlah penduduk asli Amerika sebelum penjajahan Eropa adalah 50 juta hingga 110 juta jiwa. Berapa jumlah suku Indian sekarang? Jadi apa meraka kini? Lihatlah pula nasib benua di sisi tenggara Indonesia, Australia. Sebelum kedatangan Kapten James Cook dan orang-orang Inggris jumlah native Australia adalah 8 hingga 20 juta jiwa. Berapa sisanya sekarang? tinggal 45 ribu jiwa.
...

Betapa kejamnya dan biadabnya para penjajah Barat itu! Benua Amerika dan Australia kini dikuasai oleh penjajah dengan menyingkirkan penduduk asli dengan berbagai pembantaian dan pembunuhan-pembunuhan yang kejam, namun 'atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur,  rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya'

Dan kita pun patut bersyukur bahwa sebelum kedatangan bangsa Eropa yang hendak menjajah, penduduk nusantara telah memiliki suatu tata nilai yang membentuk harga diri yang kokoh. Para leluhur kita menolak dijajah, karena '...sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan'.


...

Datang silih berganti para penjajah berusaha menguasai negeri ini, namun kedatangan mereka disambut perlawanan demi perlawanan yang sambung menyambung dari generasi ke generasi. Dari Jawa, diawali dari Perlawanan Pati Unus dari Demak ( 1513, 1521 ), diteruskan dengan perlawanan Ratu Kalinyamat - Jepara ( 1550,1564, 1573 ), bersambung dengan kemenangan Fatahillah di Sunda Kelapa (1527).

Di zaman Belanda , Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Mataram tercatat dua kali menggempur Batavia ( 1628 dan 1629 ). Dari Yogyakarta Diponegoro mengobarkan perang Jawa ( 1825 - 1830 ) yang menenggelamkan pemerintah Hindia Belanda dalam hutang besar.

Di luar Jawa semangat perlawanan itu berkobar - kobar: Perang Makassar (1633-1669),Perang Banjar (1854-1864), Perang Aceh Pertama (1873-1874) dipimpin oleh Panglima Polim dan Sultan Mahmud Syah .Perang Aceh Kedua (1874-1880). Perang ketiga (1881-1896), perang dilanjutkan secara gerilya dan dikobarkan perang fi sabilillah dipimpin Teuku Umar dan Cut Nyak Dien.

Memasuki abad 19, orang-orang Arab dari kalangan Alawi mendirikan perkumpulan Jamiatul Kheir di Jakarta ( 1901 ) untuk memajukan pendidikan dan pengajaran. HOS Cokroaminoto salah seorang alumni Jamiatul Kheir kemudian mendirikan Sarekat Islam ( 1911 ) - organisasi terbesar beranggotakan 360.000 dengan 80 cabang tersebar di Hindia Timur. HOS Cokroaminoto - Sang Raja Jawa Tak Bermahkota merupakan guru politik para founding father Indonesia, Bung Karno Sang proklamator merupakan murid Cokroaminoto.

Belum ada Komentar untuk "Kita Bersyukur, Karena Para Pendahulu Kita Menolak Diajajah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel