Membaca Sejarah Tahun Baru Jawa dan Konsep Hijrah Tjokroaminoto

Memasuki Tahun Baru Islam dan Tahun Baru Jawa, Mari kita sejenak membaca sejarah Sultan Agung sang pembaharu kalender Jawa dan meneladani Konsep Hijrah Sang Raja Jawa Tanpa Mahkota.

Sultan Agung adalah Sultan yang menaruh perhatian besar pada kebudayaan dan peradaban Jawa. Di masa pemerintahannya Sultan Agung Hanyokrokusumo mengeluarkan dekrit yang mengganti penanggalan Saka yang berbasis perputaran matahari (Surya Sengkala/ Syamsiyyah)  dengan sistem kalender lunar (Candra Sengakala/Qomariyyah). Dekrit Sultan Agung berlaku di seluruh wilayah Kesultanan Mataram.

Sebagai pemimpin kerajaan Islam Jawa, Sang Sultan berusaha memadukan kalender Hijriyah yang dipakai kaum santri di pesisir utara dengan kalender Saka yang masih dipakai masyarakat Jawa di pedalaman sehingga menghasilkan kalender Jawa-Islam atau dikenal juga dengan Kalender Jawa Sultan Agungan.

Dalam kalender Jawa Sultan Agungan, diadopsilah kalender Hijriah dengan beberapa penyesuaian. Hari dan bulan diganti dengan mengadopsi nama pada penanggalan Hijriyah dengan pelafalan yang di 'Jawa' kan.

Uniknya awal bulan kalender Jawa juga diganti, yang awalnya jatuh pada hari raya Nyepi sekitar bulan Maret pada kalender Masehi menjadi disamakan dengan kalender Hijriyah. Maka jadilah awal kalender Jawa 1 Suro sama dengan 1 Muharam. Sehingga tahun baru Jawa menjadi bersamaan dengan tahun baru Islam / Hijriyah sebagaimana yang kita kenal sekarang ini.

Perubahan sistem kalender dilakukan Sultan Agung itu bersamaan dengan 1 Muharram 1043 Hijriyah atau tanggal 8 Juli 1633 Masehi yang bertepatan dengan 1555 tahun Saka. Sehingga pertama kali kalender Jawa buatan Sultan Agung bukan 1 Suro tahun 1 tetapi 1 Suro tahun 1555.

Bila kita menilik dasar perhitungannya, kalender Saka mengacu pada sistem perputaran matahari. Sementara itu, kalender Jawa yang dibuat Sultan Agung berdasarkan lunar atau sistem bulan seperti sistem kalender Hijriah. Kedua sistem perhitungan solar dan lunar berbeda, sehingga tindakan Sultan Agung dianggap cukup revolusioner.

Ditinjau dari segi politik kekuasaan, penyatuan kedua kalender tersebut membuat stabilitas politik Sultan Agung makin kokoh. Penyatuan kalender tersebut bertujuan untuk merangkul seluruh rakyat Jawa agar menyatu di bawah kekuasaan Mataram. Dan pada gilirannya kemudian dijadikan sebuah momentum politik menggalang kekuatan untuk menyerbu Belanda dengan VOC-nya di Batavia pada 1628 dan 1629.

Peristiwa Hijrah Kanjeng Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah dijadikan alasan Sayyidina Umar menjadi tonggak awal kalender Islam atau dikenal dengan kalender Islam. Oleh karena itu bukanlah hal yang sulit dipahami mengapa Sultan Agung menyamakan awal bulan kalender sebagai penanda pergantian tahun Jawa (1 Suro) disamakan dengan tahun Hijriyah (1 Muharam). Karena ini semua, Sultan Agung ditengarai sebagai pelopor Renaisance Jawa.

Hijrah juga menjadi fondasi awal pemikiran Hadji Oemar Said Tjokroaminoto. Berhijrah artinya berpindah, baik secara fisik maupun secara pikiran. Tjokroaminoto berhijrah karena tidak menyukai kepastian, ketetapan atau bahkan kemapanan yang ditawarkan bangsa kolonial. Bagi Tjokro, kemapanan hanyalah ilusi feodalisme kaum bangsawan, priyayi dan kompeni yang menjadi pangkal ketidakadilan bagi kaum pribumi. 

Feodalisme justru mengakibatkan rakyat jelata tak punya kesempatan setara untuk menimba jernihnya ilmu pengetahuan, mengelola sendiri tanah garapan demi kesejahteraan, ataupun sekadar merasakan nikmatnya kopi seduhan dari hasil perkebunan. Sebab, rakyat biasa hanya dianggap seperempat manusia.

Konsep Hijrah Tjokroaminoto inilah yang kelak dikemudian hari menginspirasi pernyataan sikap "..bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa , maka sebab itu penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan..." . -- sebuah pernyataan sikap yang sangat berani di masa itu.

"Hijrah". Ini yang menjadi tema utama kehidupan seorang pembaharu Indonesia. Mari kita simak salah satu atu  perrcakapan menarik dari Tjokroaminoto dan Agus Salim.

"Sudah sampai mana hijrah kita?" tanya Tjokro.

"Arafah mungkin," jawab Agus Salim.

"Sudah benarkah arah hijrah kita?"

Tjokroaminoto mengatakan, “Hanya ada satu cara untuk berhijrah; setinggi-tinggi ilmu, sepintar-pintar siasat dan semurni-murni tauhid”

*Selamat berhijrah !!*

Belum ada Komentar untuk "Membaca Sejarah Tahun Baru Jawa dan Konsep Hijrah Tjokroaminoto"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel